Karya
Judul/Title Sosialisasi Kajian Pola Konsumsi Susu Kental Manis Pada Anak di Indonesia dan Konsekuensinya Terhadap Kecukupan Gizi.
Penulis/Author Dr. Dwi Larasatie Nur Fibri, S.T.P., M.Sc. (1)
Tanggal/Date 27 2021
Kata Kunci/Keyword
Abstrak/Abstract Produk susu kental manis cukup popular di masyarakat, bahkan beberapa orang berpendapat bisa menggantikan ASI (Palupi, 2015; Adriani dan Kartika, 2013). Situasi ini sangat memprihatinkan mengingat susu kental manis (SKM) merupakan susu yang telah melalui pengolahan dimana 60% kandungan air dihilangkan dan diganti dengan penambahan sukrosa (Encyclopedia of Food Sciences and Nutrition, 2003). Berdasarkan Sugito et al.(2008), 58,9% anak Indonesia yang mengonsumsi susu kental manis berasal dari keluarga dengan status sosial rendah. Selain itu, tingkat pendidikan ibu juga berhubungan dengan preferensi membeli susu kental manis. Ibu dengan pendidikan rendah, cenderung memberikan susu kental manis sebagai pengganti susu yang dikonsumsi setiap hari. Kelompok susu kental manis tidak memiliki nutrisi yang lengkap seperti susu pada umumnya. Hal ini karena pemrosesan yang telah dilakukan sehingga menyebabkan kehilangan zat gizi dan justru disubstitusi oleh zat non-esensial seperti jumlah gula yang sangat tinggi. Menyikapi permasalahan tersebut, beberapa pakar bidang kesehatan melakukan kajian mengenai aspek regulasi, konsumsi, dan efek kesehatan dari konsumsi susu kental manis, khususnya bagi anak-anak di Indonesia. Konsumsi SKM secara terus menerus berpotensi menghambat pertumbuhan dan perkembangan optimal anak usia 1-3 tahun (Juffrie et al., 2020). Selain itu, terdapat kesenjangan antara peraturan, praktik industri, dan pemasaran produk yang menimbulkan kebingungan masyarakat terhadap produk SKM. Masih banyak masyarakat yang belum teredukasi mengenai SKM apakah konsumsi SKM dapat disamakan dengan konsumsi susu atau justru memiliki golongan yang sama dengan produk-produk minuman dengan pemanis. Pembatasan konsumsi susu kental manis sebaiknya dapat semakin digencarkan oleh pemerintah. Selain itu perlu upaya pengawasan dan evaluasi pemasaran produk secara aktif, termasuk di dalamnya pemasangan label produk, penegakan peraturan pemerintah secara aktif, dan edukasi konsumen dengan efektif. Edukasi terkait konsumsi susu kental manis yang tepat juga menjadi salah satu upaya pencegahan masalah gizi seperti stunting. Berbagai lembaga baik pemerintahan, swasta, lembaga non-pemerintah, dan akademisi memiliki tanggung jawab sosial untuk bersamasama meningkatkan pola konsumsi anak-anak di Indonesia menjadi lebih baik. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan sosialisasi hasil kajian mengenai konsumsi susu kental manis dan efek kesehatannya, serta diskusi bersama pemangku kepentingan dalam rangka menyusun rekomendasi mengenai aspek regulasi, promosi kesehatan masyarakat, dan perilaku konsumen susu kental manis.
Level Nasional
Status
Dokumen Karya
No Judul Tipe Dokumen Aksi