| Abstrak/Abstract |
Produk susu kental manis cukup popular di masyarakat, bahkan beberapa orang
berpendapat bisa menggantikan ASI (Palupi, 2015; Adriani dan Kartika, 2013). Situasi ini
sangat memprihatinkan mengingat susu kental manis (SKM) merupakan susu yang telah
melalui pengolahan dimana 60% kandungan air dihilangkan dan diganti dengan penambahan
sukrosa (Encyclopedia of Food Sciences and Nutrition, 2003). Berdasarkan Sugito et
al.(2008), 58,9% anak Indonesia yang mengonsumsi susu kental manis berasal dari keluarga
dengan status sosial rendah. Selain itu, tingkat pendidikan ibu juga berhubungan dengan
preferensi membeli susu kental manis. Ibu dengan pendidikan rendah, cenderung
memberikan susu kental manis sebagai pengganti susu yang dikonsumsi setiap hari.
Kelompok susu kental manis tidak memiliki nutrisi yang lengkap seperti susu pada
umumnya. Hal ini karena pemrosesan yang telah dilakukan sehingga menyebabkan
kehilangan zat gizi dan justru disubstitusi oleh zat non-esensial seperti jumlah gula yang
sangat tinggi.
Menyikapi permasalahan tersebut, beberapa pakar bidang kesehatan melakukan
kajian mengenai aspek regulasi, konsumsi, dan efek kesehatan dari konsumsi susu kental
manis, khususnya bagi anak-anak di Indonesia. Konsumsi SKM secara terus menerus
berpotensi menghambat pertumbuhan dan perkembangan optimal anak usia 1-3 tahun
(Juffrie et al., 2020). Selain itu, terdapat kesenjangan antara peraturan, praktik industri, dan
pemasaran produk yang menimbulkan kebingungan masyarakat terhadap produk SKM.
Masih banyak masyarakat yang belum teredukasi mengenai SKM apakah konsumsi SKM
dapat disamakan dengan konsumsi susu atau justru memiliki golongan yang sama dengan
produk-produk minuman dengan pemanis. Pembatasan konsumsi susu kental manis
sebaiknya dapat semakin digencarkan oleh pemerintah. Selain itu perlu upaya pengawasan
dan evaluasi pemasaran produk secara aktif, termasuk di dalamnya pemasangan label
produk, penegakan peraturan pemerintah secara aktif, dan edukasi konsumen dengan efektif.
Edukasi terkait konsumsi susu kental manis yang tepat juga menjadi salah satu upaya
pencegahan masalah gizi seperti stunting. Berbagai lembaga baik pemerintahan, swasta,
lembaga non-pemerintah, dan akademisi memiliki tanggung jawab sosial untuk bersamasama
meningkatkan pola konsumsi anak-anak di Indonesia menjadi lebih baik. Oleh karena
itu, perlu dilaksanakan sosialisasi hasil kajian mengenai konsumsi susu kental manis dan
efek kesehatannya, serta diskusi bersama pemangku kepentingan dalam rangka menyusun
rekomendasi mengenai aspek regulasi, promosi kesehatan masyarakat, dan perilaku
konsumen susu kental manis. |