| Penulis/Author |
Dr. Dra. Pramudji Hastuti, Apt., M.S. (1) ; Dr. Dra. Prasetyastuti, Apt., M.Kes. (2); dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D. (3); Dr. Drs. Ngadikun, M.Biomed. (4); Prof. Dr. Dra. Sunarti, M.Kes. (5); dr. Arta Farmawati, Ph.D. (6); Abrory Agus Cahya Pramana, S.Si., M.Sc. (7); Dianandha Septiana Rubi, S.Gz., M.Sc. (8) |
| Abstrak/Abstract |
GAKY atau Gangguan Akibat Kekurangan Yodium merupakan silent pandemic yang
dapat menjadi masalah kesehatan serius jika tidak dilakukan pencegahan sejak dini.
Surveillance terhadap masalah GAKY perlu dilakukan secara menyuluh untuk diperoleh
prevalensi penderita GAKY yang lebih akurat. Dampak terjadinya GAKY yang dapat dilihat
adalah timbulnya penyakit gondok, serta pada balita yang baru lahir dari ibu yang mengalami
GAKY adalah stunting. Namun, secara tidak kasat masat munculnya retardasi mental,
penurunan perkembangan otak pada anak menjadi akibat dari GAKY, yang tentu saja masalah
ini dapat menurunkan kualitas pembangunan sumber daya manusia. Indonesia memiliki
sejarah panjang terhadap pengentasan masalah GAKY, bahkan pada tujuan MDGs
pengentasan masalah gizi buruk menjadi prioritas. Meskipun angka gizi buruk terutama
masalah GAKY menurun sebesar 18.5%, namun prevalensi akibat terjadinya GAKY, pada
masalah stunting masih mencapai angka 36.8%, yang menjelaskan kondisi GAKY di
beberapa wilayah Indonesia masih terjadi.
Lokasi geografis berupa pegunungan menyebabkan adanya kecenderungan masyarakat
yang tinggal di daerah tersebut mengalami GAKY. Hal ini terlihat pada kasus GAKY dan
stunting yang dialami di daerah Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi D.I.
Yogyakarta. Sebanyak 14% anak-anak di daerah tersebut mengalami kasus hipotiroid berat
akibat kekuranga yodium. Oleh karena tersebut, Peningkatan Keterampilan Penanggulangan
GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) dan Stunting di Lereng Gunung Merapi
perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan menurunkan
angka GAKY, sekaligus melakukan pembaharuan pendaatan angka kejadian GAKY dan
stunting di lereng Gunung Merapi.
Adanya pengabdian masyarakat ini ditujukan untuk membentuk kader kesehatan
MasDarYo (Masyarakat Sadar Yodium) yang diharapkan dapat membantu untuk
menurunkan angka kasus terjadinya GAKY dan stunting di daerah mitra. Selain itu, adanya
pengabdian masyarakat ini ditujukan untuk membentuk sustainable education kepada
masyarakat melalui pengaryaan perangkat daerah mitra, ibu-ibu PKK, puskesmas, dokter, dan
bidan di daerah mitra guna menyokong program pemerintah dalam upaya peningkatan
kualitas kesehatan masyarakat yang termaktub dalam program Nawa Cita pemerintah.
Harapan ke depannya dari pengabdian masyarakat yang dilakukan ini adalah terbaharuinya
data prevalensi GAKY dan stunting di lereng Gunung Merapi, khususnya di daerah mitra,
sehingga diperoleh data yang valid. Kemudian, program yang dilakukan di daerah mitra dapat
memberikan dampak positif dan memberikan role model terhadap daerah pandemik GAKY
dengan munculnya kader MasDarYo-MasDarYo lainnya, sehingga tujuan Sustainable
Development Goals 2030 dapat terwujud, dan peningkatan kualitas pengembangan sumber
daya manusia Indonesia dapat terwujud. |