| Penulis/Author |
Moh. Hendra Setia Lesmana, S.Kep, Ns, M.Sc., Ph.D. (1); Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., PhD (2) ; Ariani Arista Putri Pertiwi, S.Kep., N.S. (3); Arifin Triyanto, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.M.B. (4); Dr. Akhmadi, S.Kp., M.Kes., M.Kep., Sp.Kep.Kom. (5); Dwi Harjanto, S.Kp., M.Sc (6); Ema Madyaningrum, S.Kep., NS., M.Kes., Ph.D (7); Purwanta, S.Kp., M.Kes. (8); Sarwo Edi, A.Md. (9); Shinta Restu Wibawa, S.Kep., Ns., M.Kep. (10); Sri Hartini, S.Kep., Ners., M.Kes., Ph.D. (11); Wiharda (12); ARFIDYA KARTIKA RIFADANTI (13); NADHIYA HANNA SHOFIANA (14); SALMA NUR PAMBAJENG (15); VEVIANTI KHIKMATUNNI'MAH (16); VIOLINA HANGGA RISTI (17); Etik Rositasari, SKep., Ns., MNSc (18); Reni Tri Astuti (19) |
| Abstrak/Abstract |
Petugas kesehatan (termasuk kader kesehatan) memiliki tugas memberikan pelayanan kesehatan baik dalam taraf preventif, rehabilitatif, promotif dan kuratif. Agar mereka dapat melakukan tugasnya dengan baik, maka kesehatan dan kesejahteraan fisik dan psikologis dari petugas kesehatan dan kader kesehatan perlu menjadi perhatian.
Hasil kegiatan pengabdian masyarakat oleh tim dari Departemen Keperawatan pada tahun 2024 dengan memberikan pelayanan terapi Sujok pada staff di tiga rumah sakit (RSA UGM, RS Soeradji Klaten dan RS Panti Rapih) menunjukkan bahwa sekitar lebih dari 300 staff di ketiga rumah sakit tersebut mengalami berbagai masalah kesehatan baik fisik maupun psikologisb (https://fkkmk.ugm.ac.id/fk-kmk-ugm-mengenalkan-terapi-sujok-sebagai-solusi-kesehatan-efektif-dan-non-invasif/). Hasil kegiatan pengabdian masyarakat tahun 2024 tersebut membuktikan bahwa hampir semua masalah kesehatan yang dialami oleh staf di rumah sakit tersebut dapat diselesaikan atau diringankan dengan adanya pelayanan terapi Sujok yang dilakukan oleh tim dari Departemen Keperawatan FK-KMK UGM.
Terapi Sujok adalah terapi dari Korea Selatan, yang dikembangkan oleh Prof. Park Jae Woo pada tahun 1987. Kata su yang berarti tangan dan jok yang berarti kaki. Berdasarkan hasil dari penelitian komprehensif tentang sistem korespondensi tubuh manusia, ditemukan kesamaan di area tangan dan kaki secara keseluruhan dengan seluruh area tubuh manusia. Metode terapi Sujok dapat dilakukan dengan pemijatan, memberikan warna pada kulit, menempelkan magnet, jarum, biji dan benda lain sesuai dengan titik nyeri yang ditemukan (1)
Metode terapi ini tidak hanya dilakukan dengan metode tunggal tetapi juga dapat dilakukan dengan menggabungkan berbagai metode, misalnya setelah dilakukan pemijatan selanjutnya dilakukan penempelan biji pada titik n.yeri (2). Mudahnya terapi ini untuk diaplikasikan menyebabkan terapi Sujok menjadi terapi yang lebih murah dan lebih sederhana dibandingkan dengan kebanyakan terapi alternatif lainnya. Telah banyak penelitian yang menjelaskan bahwa terapi Sujok dapat digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan baik fisik maupun psikologis. Penelitian terkait dengan terapi Sujok antara lain penelitian yang dilakukan oleh Nurjannah dan Hariyadi (2021) dengan judul penelitian “Sujok as a Complementary Therapy for Reducing Level of Pain: A Study Retrospective Study” (2).
Adanya bukti kemanfaatan dari pelayanan Terapi Sujok yang relatif singkat, mudah, dan cepat memberikan efek terhadap masalah yang dihadapi oleh staf di beberapa rumah sakit tersebut, kemudian menjadi landasan yang kuat untuk melanjutkan kegiatan pengabdian masyarakat di tahun 2025.
Kegiatan pengabdian masyarakat di tahun 2025 ini masih akan melanjutkan sosialisasi Terapi Sujok bagi lebih banyak staf di rumah sakit. Selain itu, diharapkan tenaga kesehatan memiliki kompetensi sebagai terapis Sujok yang pada akhirnya akan mampu mengatasi mengatasi masalah kesehatan fisik dan psikologis bagi diri sendiri maupun bagi tenaga kesehatan yang ada di institusi masing-masing. Khusus bagi tenaga kesehatan di rumah sakit, pelatihan akan dilakukan sampai dengan petugas kesehatan mendapatkan sertifikasi sebagai terapis Sujok dari BNSP, sedangkan untuk kader kesehatan akan dibekali keterampilan melakukan terapi Sujok dasar sebagai bekal dalam menolong masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini sangat penting, karena petugas kesehatan di rumah sakit yang telah memiliki sertifikasi sebagai terapis Sujok hanya berjumlah 3 orang di seluruh rumah sakit di Yogyakarta.
Selain manfaat di atas, diharapkan dengan adanya sertifikasi sebagai terapis Sujok dari BNSP bagi tenaga kesehatan, maka institusi dimana tenaga kesehatan tersebut bekerja, dapat mulai untuk merintis pelayanan terapi komplementer Sujok bagi konsumen di rumah sakit tersebut, Adapun bentuk pelayanan antara lain dengan adanya pelayanan komplementer atau yang terintegrasi dengan pelayanan home care, health tourism, serta program manajemen nyeri non farmakologi. Terkait dengan hal ini, rumah sakit yang telah ditunjuk oleh kementerian kesehatan untuk dapat membuka layanan pengobatan komplementer, akan bermitra dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini yang ditunjukkan dengan adanya surat kesediaan menjadi mitra. Kemitraan juga akan dibangun dengan organisasi lain yaitu Yayasan Sujok Indonesia (YSI) untuk lebih memantapkan program pengabdian masyarakat ini. |