| Abstrak/Abstract |
Background: Pola makan sehat merupakan salah satu faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) yang dapat dimodifikasi, namun masih intervensinya masih sangat terbatas. Intervensi yang ada pada umumnya lebih ditujukan kepada anak-anak usia kurang dari 5 tahun dan pasien PTM yang mendapat edukasi pada saat periksa. Oleh karena itu, penelitian untuk merancang intervensi yang tepat untuk pola makan yang sehat menjadi penting untuk dilakukan.
Method: Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian ini adalah masyarakat Kota Yogyakarta pada kelompok usia produktif. Informan meliputi warga masyarakat, tokoh masyarakat, petugas gizi, petugas promosi kesehatan, serta koordinator ketahanan pangan dan penyuluhan yang dipilih secara purposif. Pengumpulan data dilakukan dengan diskusi kelompok terarah, wawancara mendalam dan observasi. Informan berjumlah 79 orang. Trustworthiness dilakukan dengan triangulasi metode, triangulasi sumber, dan peer debriefing.
Results: Terdapat kebutuhan masyarakat untuk intervensi terkait dengan pola makan, yang semestinya tidak terbatas pada pola makan anak dan penderita PTM. Masyarakat Kota Yogyakarta mengharapkan agar intervensi pola makan tersebut dilakukan dengan pendekatan keluarga. Saluran komunikasi yang dapat digunakan untuk intervensi tersebut adalah berbagai pertemuan warga, berbagai kelompok WhatsApp, instagram yang dapat menyajikan lebih banyak gambar, serta media cetak yang dapat didistribusikan kepada pada semua warga masyarakat. Pada program intervensi tersebut diharapkan disertai dengan paparan informasi yang dapat dipercaya, mengikuti perkembangan, disertai dengan gambar yang mendukung dan dilakukan secara berulang-ulang.
Conclusion: Intervensi untuk pola makan sehat sangat diperlukan masyarakat usia produktif di perkotaan, dan perlu dilakukan dengan menggunakan pendekatan keluarga melalui berbagai saluran komunikasi yang dimiliki masyarakat.
Keywords: community engagement - urban community – healthy diet |