| Abstrak/Abstract |
Latar belakang: Terjadinya triple burden of disease di tingkat global dan Indonesia dapat menjadi
salah satu hambatan dalam mencapai sustainable development goals (SDGs). Di sisi lain, literasi
kesehatan menjadi salah satu variabel kunci yang turut menentukan pencapain SDGs. Literasi
kesehatan yang tinggi akan mendorong terbentuknya perilaku sehat individu dan masyarakat, oleh
karenanya upaya meningkatkan literasi kesehatan perlu dilakukan sejak dini. Beberapa penelitian
melakukan intervensi untuk meningkatkan literasi kesehatan pada sekolah ataupun perguruan
tinggi. Sementara itu, kelompok pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan di
Indonesia masih belum banyak terjangkau. Terdapat lebih dari 30 ribu pesantren dengan total 4,7
juta santri yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Upaya meningkatkan literasi kesehatan
perlu dilakukan secara kreatif dan sesuai dengan karakteristik sasaran. Photovoice merupakan
salah satu strategi komunikasi yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan santri melalui
pengembangan photovoice di Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini merupakan action research yang akan dilakukan di Pondok Pesantren
Assalafiyyah, Mlangi Yogyakarta, yang datanya dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner,
wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan observasi. Populasi penelitian adalah
segenap sivitas pondok pesantren, baik santri, pengasuh pondok pesantren serta alumni santri yang
melakukan magang di tempat tersebut. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling
dengan menggunakan prinsip kesesuaian dan kecukupan. Intervensi untuk meningkatkan literasi
kesehatan akan dikembangkan dan dievaluasi. Intervensi peningkatan literasi kesehatan akan
dilakukan kepada santri SMP kelas 8, sedangkan agen perubahan yang akan melakukan intervensi
adalah alumsi santri (mahasiswa) yang melakukan pengabdian di pesantren tersebut. Analisis data
dilakukan dengan content analysis. Selanjutnya, trustworthiness akan dilakukan dengan
triangulasi, dan peer debriefing. |