Karya
Judul/Title Pembicara di Diskusi Filsebat "Fans Against the Mainstream"
Penulis/Author Mashita Phitaloka Fandia Purwaningtyas, S.I.P., M.A. (1)
Tanggal/Date 25 2020
Kata Kunci/Keyword
Abstrak/Abstract Zaman modern melahirkan beragam gejolak di dalam masyarakat manusia dan dalam setiap gejolak tersebut selalu diikuti juga dengan perkembangan di ranah budaya pop. Tak jarang pula setiap gejolak budaya pop itu menciptakan perubahan sosial dalam suatu masyarakat. Pada tahun 1960an awal, lahir era Beatlemania atau British Invasion, dikenal lewat penggemarnya yang mempunyai potongan rambut mop-top dan dandy yang mana merupakan alternatif hiburan pemuda di masa perang dingin. Setelah itu diikuti kebangkitan Flower Generation serta makin beragamnya musik pop di pertengahan 60 hingga 70-an yang dilanjutkan ke musik Psychedelic, Funk, hingga Disco. Lalu lahir era New Hollywood, ketika seni sinema berubah jadi lebih vulgar dan perang dingin memanas, sehingga muncul gerakan counter culture yang menolak perang yang terjadi di Vietnam dan mendorong kesadaran masyarakat yang berpengaruh kepada turunnya presiden Nixon oleh kasus Watergate. Di pertengahan 1970an lahir musik alternatif seperti classic rock, alternative rock, heavy metal hingga punk. Punk yang dipelopori oleh band-band seperti The Sex Pistols dan Ramones melahirkan suatu Gerakan Punk. Dengan lirik yang keras dan ‘slengean’, banyak para pendengarnya yang mulai melek isu sosial sehingga banyak orang melakukan aksi protes dengan cara yang unik, seperti dengan menerbitkan zine fotokopi, merchandise punk, dan keterlibatan kaum perempuan yang sangat setara. Perubahan tersebut pun masih bisa dirasakan sampai sekarang ketika budaya zine fotokopi dan aksesorisnya seperti taring babi masih laku di pasaran. Kita melompat ke tahun 2008 sampai hari ini, yang mana dunia dilanda gelombang Hallyu Wave atau K-Pop atau Korean Wave. Di sinilah kita mungkin mengenal K-Drama seperti My Sassy girl dan Boys Over Flowers. Lalu film seperti Tae-Guk-Gi menjadi dikenal khalayak dunia, terutama di Amerika Serikat. Sinema korea pun mencapai puncaknya ketika pada tahun 2019 yang lalu Parasite mendapatkan predikat film terbaik dalam Academy Awards, yang kita semua tahu merupakan penghargaan dan nominasi paling bergengsi di dunia. Makin mendunialah Korean Wave, mulai dari maraknya gaya berfesyen ala Korea, menjamurnya restoran serta produk Korea dari makanan hingga produk kosmetik. Saking maraknya, bahkan perusahaan kelas kakap seperti Unilever pun mempunyai produk kecantikan di Indonesia bernama Korea Glow. Seperti Beatlemania atau Hippies Flower Generations, Korean Wave juga melahirkan sebuah kelompok atau komunitas fandom tersendiri, khususnya girl/boyband musik K-Pop yang kita tahu memiliki kelompok fansnya masing-masing yang cukup fanatik. Mulai dari Wonder Girls dengan Wonderful, Girls Generation dengan So-won, Super Junior dengan ELF, AOA dengan AOE, Twice dengan Once, BTS dengan BTS ARMY, hingga Blackpink dengan Blink-nya. Mereka tersebar lintas samudera dan benua, melewati batas negara dan batas kultural. Laman berita CNN (14/01/2020) menerangkan bahwa sebuat riset oleh Twitter menunjukan 10 negara yang paling banyak membuat cuitan tentang K-Pop secara berurutan antara lain: Thailand, Korea Selatan, Indonesia, Amerika Serikat, Filipina, Brazil, Malaysia, Jepang, Mexico, dan Argentina. Hal ini membuktikan bahwa Korean Wave itu nyata dan hari ini sedang membanjiri dunia. Kini yang menjadi pertanyaannya, sebagai produk dari sebuah zaman yang mana kapitalisme sama sekali tidak terlihat mengeksploitasi manusia dan sebagai produk langsung dari suatu perekembangan masif suatu industri musik, apakah Korean Wave dengan sekumpulan fandomnya ini mampu mendorong atau melahirkan generasi yang dapat memicu perubahan sosial di dalam masyarakat? Jawabannya tentu saja sebagai sebuah komuntas raksasa di dunia memiliki sebuah potensi. Berdasarkan berita New York Times, generasi TikTok dan generasi K-Pop sukses membuat prank di kampanye pencalonan presiden Donald trump di Tulsa. Sehingga menyebabkan sepinya pengunjung yang datang. Selain itu fakta yang lebih konkret dari seorang Youtuber, Korea Reomit yang mengunduh video mengabarkan nasib ABK WNI yang bertugas di kapal China yang bernasib naas. Lalu, berkat subscriber korea reomit yang rata-rata pecinta K-Pop berhasil memviralkan berita ini hingga kementerian luar negeri bertindak terhadap isu tersebut. Dari kedua fakta-fakta ini kami dapat menyimpulkan sementara bahwa fans K-Pop bukanlah sekedar sekumpulan orang-orang yang mengidolakan seorang idola, namun lebih dari itu, berkat solidaritasnya kelompok besar ini bisa menjadi suatu pelopor dalam suatu gerakan perubahan sosial yang baru. Lewat acara ini kami berusaha memberikan informasi dan pengetahuan sekitar sejarah Korean Wave beserta besarnya pengaruh gerakan fans dalam suatu perubahan sosial. Selain itu pembicara dalam webinar ini diharapkan dapat memaparkan bagaimana perubahan sosial yang terjadi akibat Korean Wave, lalu menjelaskan bagaimana trend dan perilaku kelompok fans K-Pop, dan perbedaan semangat zaman dari generasi Beatlemania, Counterculture, dan Punk. Peran Narasumber sangat diperlukan dalam menjelaskan lebih jauh perihal fenomena dan gejala ini, oleh karena itu kami merangkum porsi penjelasan narasumber sebagai berikut: - Narasumber diharapkan untuk menjelaskan sekilas tentang konsep Pop Culture, sejarah dan perkembangan budaya pop Korea serta K-Pop, lalu faktor dann alasan di balik mendunianya Korean Wave. - Narasumber diharapkan untuk menjelaskan bagaimana perkembangan terkini K-Pop di Indonesia, berikut perkembangan komunitasnya fans dan bagaimana komunitas tersebut menanggapi isu sosial yang terjadi hari ini ini.
Level Nasional
Status
Dokumen Karya
No Judul Tipe Dokumen Aksi