| Abstrak/Abstract |
Dalam perkembangannya, geografi manusia menginkorporasikan isu-isu politis sebagai bentuk pergerakan oposisional terhadap prevalensi masalah sosial, seperti ketimpangan, rasisme, gender, dan problem lingkungan. Peradikalan geografi manusia dalam tataran metodis terjadi melalui trajektori pemikiran Marxisme yang dimajukan oleh David Harvey. Pembacaan Harvey terhadap geografi mendekatkan diri dengan Marx dan pemikir-pemikir setelahnya, seperti Henri Lefebvre, untuk mencari aspek keruangan dari dominasi kapitalisme. Geografi kritis kemudian menambahkan berbagai gaya pemikiran—di antaranya, feminisme, pascakolonialisme, dan pascastrukturalisme—dalam upaya membongkar, mendekonstruksi, dan mengubah berbagai bentuk penindasan. Keterlibatan tradisi selain Marxisme menimbulkan diskursus yang terlampau luas yang semuanya kini disatukan dalam term payung “geografi kritis”. Kondisi ilmu geografi dewasa ini menuntut pertanyaan mengenai delineasi geografi kritis di samping geografi adjektival lainnya (“geografi fisik”, “geografi sosial”, “geografi regional”). Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut melalui beberapa pembagian bahasan sebagai berikut. Pertama, tulisan ini akan melacak sejarah perkembangan geografi kritis dari perkembangan geografi sebelumnya yang memantik kehadiran metode radikal. Kemudian, geografi kritis akan ditampilkan secara kontekstual dalam perkembangannya sebagai geografi yang inklusif terhadap berbagai diskursus filosofis. Kedua, tulisan ini akan menjabarkan secara kritis konsep-konsep yang esensial di dalam geografi kritis bersama dengan, ketiga, metodologi yang menjadi benang merah antara berbagai pendekatan dan gaya dalam geografi kritis. Keempat, tulisan ini akan melihat cara kerja geografi kritis dalam literatur yang telah tersedia untuk melihat persimpangan geografi kritis dengan berbagai bidang ilmu dan masalah, seperti hukum, aktivisme sosial, dan mitigasi bencana. Terakhir, tulisan ini ditutup dengan kajian reflektif mengenai makna term “kritis” dan penggunaannya dalam diskursus geografi kritis serta membayangkan ulang geografi di Indonesia dalam bentuk yang memungkinkan interaksi secara intens dengan bidang-bidang sosial humaniora. Hal ini akan menggambarkan garis besar geografi yang bersifat multidisipliner, termasuk mengambil wawasan dari filsafat. |