Abstrak/Abstract |
Kanker adalah suatu penyakit sel dengan ciri gangguan atau kegagalan mekanisme pengatur multiplikasi dan fungsi homeostasis lainnya pada organisme multiseluler. Kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak menyerang wanita di Amerika dengan 182.460 kasus baru pada tahun 2008, angka tersebut mencerminkan 26% kanker yang menyerang wanita (Jemal et al., 2008). Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ) Rumah Sakit Kanker Dharmais menyebutkan bahwa kanker payudara merupakan penyebab kematian nomor dua untuk perempuan di Indonesia setelah kanker serviks (Anonim, 2009). Oleh karena itu, diperlukan metode terapi yang komprehensif untuk mengatasi peningkatan insidensi kanker payudara dan juga untuk menekan jumlah kematian pasien (Jemal et al., 2008). Kebutuhan senyawa kemoterapi yang efektif dengan toksisitas terhadap inang rendah dan efek samping yang minimal merupakan masalah yang perlu dicermati dengan serius. Senyawa-senyawa yang diperoleh dari bahan alam terutama tanaman dan mikroba memberikan hasil yang menjanjikan dalam pengembangan senyawa-senyawa antikanker baru. Di antara jenis mikroorganisme yang ada, actinomycetes merupakan sumber yang paling potensial penghasil antibiotik dan antikanker. Actinomycetes menjadi sangat penting dalam industri farmasi karena kemampuannya dalam memproduksi senyawa metabolit yang bervariasi, baik dari struktur maupun fungsinya. Senyawa metabolit yang dihasilkan oleh Actinomycetes sebagian besar mempunyai aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan obat yang dapat menanggulangi berbagai macam penyakit, di antaranya sebagai antikanker (Nurkanto et al., 2010). Pada penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa ekstrak methanol dari actinomycetes yaitu bakteri Streptomyces sp. GMY01 yang berasal dari pantai Krakal, Gunung Kidul mempunyai aktivitas sitotoksik yang baik terhadap sel kanker payudara MCF-7 dan T47D dengan nilai IC50 sebesar 0,6 dan 1,5 ug/ml (Widada, 2015). Hal ini sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi suatu agen kemoterapi dengan cara mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa aktif yang terkandung dalam streptomyces tersebut. Dalam penelitian ini akan dilakukan isolasi dan identifikasi (elusidasi struktur) senyawa aktif dari ekstrak methanol bakteri Streptomyces sp. GMY01 yang berpotensi sebagai agen kemoterapi dan selanjutnya menguji aktivitas isolat senyawa aktif tersebut terhadap sel kanker payudara MCF-7 dan T47D untuk melihat efek sitotoksik dan melihat mekanisme aksinya pada ekspresi protein target. Pada tahap selanjutnya akan dilanjutkan dengan uji secara in vivo menggunakan hewan uji tikus galur Sprague Dawley untuk melihat aktivitas kemoterapinya pada organisme multiseluler. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk mendapatkan senyawa aktif yang baru sebagai agen antikanker potensial asli dari Indonesia. |