| Penulis/Author |
dr. Imam Manggalya Adhikara, Ph.D., Sp.PD. (1) ; Uki Noviana, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D. (2); dr. Harik Firman Thahadian, Ph.D. (3); Dr. Akhmadi, S.Kp., M.Kes., M.Kep., Sp.Kep.Kom. (4); dr. Dwita Dyah Adyarini, Sp.PD. (5); dr. Anastasia Evi Handayaningsih, Ph.D (6); dr. Yasjudan Rastrama Putra, Sp.PD (7); Purwadi Sujalmo, S.Kep., Ners., M.Kep. (8) |
| Abstrak/Abstract |
Latar belakang: Salah satu target dari tujuan ketiga SDG adalah perihal penanganan PTM di dunia. Penyakit kardiovaskular sebagai salah satu PTM masih menduduki ranking pertama sebagai penyebab utama kematian di Indonesia maupun di dunia. Prevalensinya pun terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Upaya menrunkan prevalensi dari Penyakit aterosklerotik kardiovaskular, yang diantaranya adalah penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke, dapat dilakukan sedini mungkin dengan upaya penapisan faktor risiko - faktor risikonya yang dapat dilakukan masyarakat dengan pelatihan.
Pemberdayaan kader posbindu merupakan salah satu pilihan yang cukup efektif sebagai upaya kerjasama menangani tingginya angka PTM di Indonesia. Selain sekedar melakukan penapisan PTM, kapasitas kader juga dimaksimalkan dengan melakukan stratifikasi risiko penyakit kardiovaskular sehingga data bukan hanya sekedar data melainkan berubah menjadi informasi yang lebih bermanfaat dalam upaya pencegahannya.
Stratifikasi penyakit kardiovaskular (ASCVD) untuk usia 40-75 tahun terbagi menjadi empat, yaitu risiko rendah, borderline, menengah, dan tinggi. Sedangkan ntuk stratifikasi risiko stroke dapat menggunakan Stroke Risk Scorecard yang komponennya mirip dengan ASCVD namun stratifikasinya dibagi menjadi tiga, yaitu risiko tinggi, waspada, dan rendah. Paradigma terbaru menyatakan bahwa salah satu upaya dari pencegahan dini penyakit kardiovaskular adalah dengan menggunakan statin, meskipun seseorang tidak mengalami hiperkolesterolemia. Paradigma baru ini belum banyak diadopsi di Indonesia, padahal statin telah tersedia di faskes primer. Oleh karena itu, selain peningkatan kapasitas kader dalam upaya penapisan faktor risiko penyakit kardiovaskular, perlu juga dilakukan pelatihan penerapan paradigma baru tersebut kepada tenaga kesehatan di puskesmas.
Metode: Pelatihan akan dilaksanakan untuk petugas kesehatan Puskesmas Mlati 2 dan kader Posbindu Sumberadi. Peserta pelatihan dari petugas kesehatan Puskesmas merupakan dokter, perawat, tenaga farmasi, ahli gizi dan petugas lain yang terlibat dalam pelayanan pasien penyakit tidak menular (PTM). Peserta pelatihan skirining risiko untuk kader merupakan perawakilan kader Posbindu dari seluruh pedukuhan di Sumberadi. Pelatihan akan dilaksanakan secara luring. Kader akan diberikan materi tentang penyakit jantung dan stroke, serta stratifikasi Risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK) beserta tindak lanjutnya. Selanjutnya kader akan berlatih untuk melakukan stratifikasi didampingi oleh fasilitator. Pengetahuan kader dan petugas kesehatan Puskesmas Mlati 2 akan diukur melalui pre-post test. Setelah pelatihan, kader akan didampingi dalam melaksanakan praktik skrining dan stratifikasi risiko PJK di posbindu masing-masing. Hasil dari seluruh rangkaian kegiatan akan dilaporkan dalam kegiatan evaluasi.
Luaran: Luaran dari program ini adalah adanya HKI modul skrining untuk kader, HKI modul tata laksana temuan hasil skrining untuk petugas puskesmas, HKI lembar balik untuk edukasi kader, leaflet edukasi, HKI video edukasi masyarakat mengenai risiko penyakit jantung dan stroke, artikel publikasi populer, dan artikel publikasi ilmiah terkait kegiatan pengabdian masyarakat.
Kata kunci: kader; pelatihan; penapisan risiko; penyakit jantung koroner; posbindu; stroke
|